



|
WEBSITE PDI PERJUANGAN Blog
|
|
Wed, 18 Oct 2006
|
Amuk Kader PDIP Makassar Berlanjut Jawa Pos, Rabu, 18 Okt 2006,
Amuk Kader PDIP Makassar Berlanjut
MAKASSAR - Kekecewaan kader PDIP Sulawesi Selatan
terhadap pelaksanaan konferensi daerah susulan
belum reda. Namun, kemarin puluhan pendukung dua
kandidat yang gagal ikut pemilihan, Andi
Rudiyanto Asapa dan Asyhab Azis, kembali beraksi.
Mereka mengobok-obok kantor Dewan Pimpinan Daerah
(DPD) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
(PDIP) Sulsel di Jalan Seruni No 3, Makassar.
Massa dari perwakilan 17 DPC se-Sulsel itu
mencopot dan membakar seluruh atribut partai
berlambang banteng moncong putih itu. Aksi
tersebut merupakan lanjutan dari aksi sehari
sebelumnya. Yakni, setelah Zainal Basri Palaguna
dinyatakan memenangkan pemilihan.
Aksi para pendukung Rudi -sapaan akrab bupati
Sinjai- itu disebabkan, Rudi tidak diperbolehkan
memasuki arena konferda Senin lalu. Pendukung
Rudi menilai, dengan pencekalan itu, berarti
partai (pengurus pusat) telah menginjak-injak
nilai demokrasi dan aturan main partai.
"Bagaimana partai ini (PDIP, Red) disebut partai
demokrasi, kalau sudah tidak demokratis lagi.
PDIP tidak pantas hidup di negeri ini, terutama
di Sulsel. PDIP harus dilikuidasi Mahkamah
Agung," tegas Asyhab Azis, sekretaris DPD PDIP
Sulsel demisioner.
Aksi yang mendapat pengawalan ketat dari aparat
keamanan itu berlangsung aman. Sebelum membakar,
massa mencopot atribut partai, seperti foto dan
poster Megawati Soekarnoputri, papan nama, dan
bendera partai. Mereka juga mengumpulkan arsip
dan buku-buku partai, termasuk AD/ART dan aturan-
aturan partai lain. Setelah itu, mereka
membakarnya ramai-ramai.
Dalam aksi tersebut, mereka mencaci DPP PDIP,
termasuk Sekjen PDIP Pramono Anum dan Megawati.
Mereka mengancam akan melanjutkan aksi itu di
masing-masing DPC di 17 DPC.
Ridwan Makkulau, ketua Tim Pemenangan Rudiyanto
Asapa, menegaskan, aksi serupa akan dilakukan di
DPC-DPC setelah Rudi kembali dari Jakarta.
Asyhab menambahkan, pihaknya bersama 17 DPC lain
akan hengkang dari partai yang dikenal sebagai
partai wong cilik itu. "PDIP tidak lagi
menghargai dan malah menginjak-injak demokrasi.
Kami tidak pernah mendukung Palaguna karena tidak
didukung mayoritas di DPC," tuturnya. (jpnn)
Posted 02:13
|
No comments
|
Post a Comment:
|
|
|
|